Kelana Bali Kauh : Mengarungi Selat Bali, Bali


 

Mengarungi Selat Bali: Kelana Tanpa Arah, Pulang Dengan Sekarung Kisah




 Kalau ditanya..
Hal ter-random apa yang baru aja dilakuin?

aku bakal jawab, totebagker-an. 

Totebagker-an? ini itu istilah plesetan dari backpacker-an. Kalau biasanya orang berkelana sambil bawa backpack, kali ini aku pergi berkelana bermodalkan tas totebag. Kok bisa cuma bawa totebag? ini kisahnya!


Kali ini aku berkesematan totebagker-an sambil berlayar ke pulau seberang. Sejujurnya kelana kali ini aku lakukan tanpa persiapan yang memumpuni. Iya, rencananya cuma beli makan, malah lanjut berlayar ke pulau sebrang...

Menikmati Makanan Legendaris Men Tempeh, Gilimanuk

kuliner legendaris gilimanuk

Yang katanya makanan wajib dicoba saat di dermaga gilimanuk

Berawal dari ke-BM-an makan ayam betutu, aku dan temen-temen berencana untuk makan ayam betutu. Membayangkan makan ayam betutu ditemani syahdunya angin malam semakin membuat perut ini keroncongan. Sebenarnya ada sih warung ayam betutu diseputaran daerah kami, namun kali ini kami tidak mau yang sekadarnya. Kali ini kami mau merasakan ayam betutu yang melegenda. Singkat cerita kami memutuskan untuk pergi ke dekat pelabuhan tempat banyak warung ayam betutu legendaris berada. Berdasarkan info yang beredar, ayam betutu yang enak dan melegenda berada di sekitar pelabuhan Gilimanuk.

Pilihan kami tertuju pada Rumah Makan Men Tempeh. Men Tempeh merupakan tempat makan legendaris yang menjual ayam betutu khas Gilimanuk, Bali. Tempat makan ini sudah cukup terkenal dikalangan wisatawan dan warga lokal.  Kalau kalian berkesempatan melintas melalui pelabuhan Gilimanuk, jangan lupa untuk mampir dan mencoba santapan yang satu ini.

Saran aku kalau kalian makan disini jangan sendiri ya, lebih baik ajak temen-temen yang lain biar bisa sharring dan bisa mencoba lebih banyak menu. Untuk per satu porsinya juga cukup besar, meskipun sharring akan tetap puas dan kenyang kok. Selain itu, kalau ajak temen-temen kan jadi bisa sharring bayar alias patungan kan? ini hack terbaik kalau kalian tipe laper mata tapi budget terbatas haha

Untuk ayam betutu disini ada 2 pilihan yakni ayam betutu kuah dan ayam betutu goreng. Buat kalian yang suka dengan rasa rempah kuah yang kuat kalian bisa cobain ayam betutu kuah. Pas banget kan dimakan malam-malam untuk menghangatkan badan. Tanpa tambahan sambal, kuah dari ayam betutu ini sudah cukup pedas, bagi kalian yang kurang bisa makan yang pedas-pedas lebih baik mencoba ayam betutu gorengnya ya! Oh iya, di paket ini juga sudah dapat sayur dan sambal. Untuk lauk yang sebanyak itu udah bisa makan sampai 6 orang ya.


Perut kenyang, ide-ide nyeleneh pun tiba-tiba berdatangan

mumpung deket pelabuhan, lanjut nyebrang kali ya?

ucap salah seorang dari kami dan disambut kalimat setuju oleh yang lain.
Akhirnya, berangkatlah kami ke pelabuhan. 


Menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali

Kali ini aku melakukan perjalanan berkelana bersama dengan lima orang lainnya. Mereka adalah manusia-manusia yang kutemui di kelompok KKN. Aku tak menyangka, di kelompok KKN tersebut ada pula manusia-manusia random bin gabut yang bisa aku ajak berkelana. Alhasil aku jadi punya partner berkelana yang tak terduga. Hahaha.. 

Ke enam manusia random ini akhirnya melakukan misi Totebager-an sembari mengarungi selat bali dari pelabuhan gilimanuk menuju pelabuhan Ketapang di pulau Jawa. Kejutanpun terjadi, diantara kami tidak ada yang tau bahwa saat ini di pelabuhan tidak melayani pembelian tiket secara langsung di loket tiket. Inilah salah satu akibat dari berkelana tanpa persiapan matang. Semua serba baru diketahui ketika sudah terjadi. 

Dibalik hal itu kami bertemu dengan dua orang asing berhati malaikat. Bersyukurnya, salah seorang tersebut menjelaskan kepada kami bahwa untuk pemesanan tiket perlu dilakukan online via aplikasi Ferizy. Mereka benar-benar menjelaskan kepada kami bagaimana agar tiket pelayaran tersebut sampai di tangan kami. Mereka banyak bercerita terkait pelayaran. Salah satu di antara kami sempat berniat untuk membatalkan kelana kali ini setelah mendengar cerita terkait kemungkinan adanya gelombang laut.   Ia belum pernah berlayar menggunakan kapal, wajar saja jika ia mungkin saja membayangkan gelombang laut yang dimaksud itu akan sangat besar. Namun, kedua manusia asing yang kami temui disana menjelaskan waktu yang tepat untuk menyebrang agar terhindar dari gelombang besar di laut. Ya, meskipun tidak seorangpun benar-benar tau pastinya apa yang akan terjadi di tengah laut nanti. Singkat cerita, akhirnya salah seorang teman kami tak jadi mengurungkan niatnya untuk menyebrang dan kamipun melanjutkan perjalanan kelana ini.

Bagi kalian yang berniat melakukan penyebrangan via laut, jangan lupa untuk menginstal dan melakukan pembelian tiket jauh sebelum sampai di pelabuhan ya!

E-tiket akhirnya kami kantongi juga. Berhembuslah kami menuju pelabuhan. Oiya jangan lupa untuk mencetak tiket pada mesin pencetak yang disediakan ya!
Misi berkelana dimulai!~


Saatnya berlayar, saatnya berkelana mengarungi Selat Bali


menuju tempat bersandarnya kapal

sudah sampai kapal fufufu

see u daratan~

tak lupa untuk menikmati angin dan derai ombak di pelantaran kapal


Tak terasa kurang lebih 1 jam telah berlalu. Sampailah kami ditepian. Di dermaga yang sama, dahulu salah seorang nona kecil kembali memutar memori lampau tentang keluarga masa kecilnya dahulu. Teringat jelas raut wajah bahagia nona kecil tersebut berbalut senyum yang manis, lengkap dengan kaca mata hitam yang hampir menutupi seluruh hidung dan jaket pink kesayangannya. Ingatan tersebut sekejap saru terlintas. Indahnya mengenang masa lalu, meski kini hanya sebatas kenangan.
....

Sesampainya di daratan enam sekawan itu tak tahu harus melakukan apa. mereka terus saja berjalan semakin jauh meninggalkan dermaga. Dengan hanya mengandalkan kaki-kaki kecilnya, enam sekawan tersebut menapaki bangunan-bangunan disekitar dermana. Warung-warung warga yang masih saja buka sampai dini hari hingga stasiun yang ternyata sudah tutup pun mereka tetap jajal. Sampailah rasa lelah dan kantuk tiba, enam sekawan tersebut akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di masjid terdekat. Untuk menghemat biaya, fikir mereka.

stasiun kereta yang telah sunyi

masjid tempat melepas lelah sejenak

potret 4 srikandi kelana kali ini yang sudah tepar di pelantaran masjid 


Tak terasa waktu terus saja berlalu. Saatnya kami kembali pulang ke pulau asal kami. Sebelum kembali, kami membayar beberapa rupiah kepada pengurus masjid. Tak lama setelah itu kamipun bergegas kembali ke dermaga yang letaknya berada tepat di depan masjid tempat kami singgah semalam.


Kembali berlayar dan berlabuh di Dermaga Gilimanuk, Bali



kembali ke dermaga

view sunrise dari atas kapal

lihatlah siluet pegunungannya, indah.

viewnya bisa secantik ini loh wo0o0w

sampai jumpa pulau jawa

sungguh perjalanan singkat yang berkesan :)


....



sudah waktunya meninggalkan kapal

koral penghuni pilar dermaga yang menyambut kami kembali

suasana hangat pagi dari atas kapal

tangga dermaga sudah siap mengantar ke daratan

kali ini benar-benar harus meninggalkan kapal

sampai pada akhir kelana ini 


Bagiku berkelana bukan sekadar berlomba-lomba mencari kemewahan dari kendaraan atau lokasi tujuan. Bukan pula sekadar berdebat seberapa jauh dan sulit perjalanan tersebut perlu dilewati. Tapi bagiku, hal terpenting dalam kelana adalah memilih siapa rekan kelana yang kau bawa dalam perjalanan tersebut. Siapa mereka akan menentukan sedikit banyak cerita kelana tersebut. 
Pada akhirnya, mau tak mau akan sampai pada titik akhir perjalanan, Titik itu sekaligus menjadi titik awal perjalanan baru akan segera dimulai.



Kunjungi arsip perjalanan Bila Kelana lainnya ya!

Instagram: @Bila.kelana

Tiktok: @Bila.kelana

Email: Bila.kelana@gmail.com











































Comments

Popular posts from this blog

Kelana Ancala I : Edisi Gunung Tapak, Bali

Bila Kali Pertama: Tutorial Berkunjung ke Perpustakaan Bank Indonesia Bali