Kelana Ancala I : Edisi Gunung Tapak, Bali
Pengalaman Pertama Mendaki: Gunung Tapak Bali, Pilihan Tepat Bagi Pendaki Newbie!
Semua persiapan telah dilakukan, mulai dari persiapan fisik hingga persiapan logistik. Awalnya sudah sangat pede karena sudah begitu banyak persiapan yang dilakukan. Bahkan persiapan fisik sudah dilakukan beberapa minggu sebelum pendakian. Namun ternyata mendaki tidak semudah yang ada diangan-angan...
![]() |
Beneran kaya tangga kan? |
Sedari awal pendakian, medan yang dilalui berupa medan tanah dengan banyak akar melintang. Perpaduan antara akar dan tanah tersebut seperti membentuk tangga memang cukup memudahkan pendaki pemula untuk melewati jalur. Namun jangan lengah, tetap perhatikan langkah karena akar pohon siap membuat kaki tersandung dan tergores jika abai dengannya. Meskipun medannya kaya tangga begitu, tapi engga bisa dianggap enteng. Asli, ketika trekking kebanyakan jeda untuk ambil napas. Sesuatu yang terlihat mudah jika dilakukan terus-menerus ternyata bisa menguras tenaga juga.
Pada awalnya aku berfikir ini akan menjadi sebuah pendakian yang cukup mudah. Seperti berjalan kaki umumnya di perkotaan yang sudah biasa aku jelajahi hingga berjam-jam lamanya. Itu fikir awalku. Nyatanya mendaki jauh lebih melelahkan dari sekedar berjalan jauh.
Aku rasa ini disebabkan kerena medan yang jelas berbeda. Jika di perkotaan umumnya berjalan di medan yang landai, beda halnya dengan mendaki. Ketika mendaki kita akan melalui medan yang beraneka ragam. Mulai dari landai, turunan, hingga medan yang cukup terjal. Ibarat kata seperti menaiki anak tangga, memang jika hanya menaiki beberapa lantai gedung takkan terasa apapun. Namun bayangkan harus melewati anak tangga tersebut dalam waktu yang lama. ya, baru terasa gempornya hahaha..
Dibalik hal melelahkan, adapula hal yang bikin seru. Apa itu? Tentu saja pemandangan dan 'penghuni' yang kadang suka muncul di jalur pendakian. Ini sih bisa dibilang juga salah satu hal yang memang di incar para pendaki. Katanya sih ini yang di incar, biar ada kisah yang bisa diceritain ketika sudah turun gunung....
![]() |
pemandangannya langsung gunung dan danau |
Selama pendakian mata pendaki akan dimanjakan dengan pemandangan pepohonan yang menjulang tinggi. Di sela-sela pepohonan tersebut juga menyajikan pemandangan pegunungan di seberang. Ingin rasanya berdiam lebih lama untuk sekedar menikmati pemandangan yang di suguhkan itu. Namun, sayangnya tak ada banyak waktu untuk singgah lebih lama dikarenakan waktu yang terbatas. Alhasil mata hanya bisa menikmatinya sembari terus berjalan menuju puncak. Meski begitu, tak mengurangi keindahan dan kebahagiaan dapat menyaksikan banyak hijau-hijau. Maklum di kota sudah jarang melihat yang hijau-hijau begitu hahaha...
Oh iya, terkadang monyet-monyet juga sering mendekat dan menghalangi pendaki disekitar jalur. So, tetap awasi barang bawaan kalian ya!
![]() |
"Dilarang lewat, bagi ceban dulu bang!" |
![]() |
Apa kalian melihat monyet? dimana? lebih keras! |
Selain pemandangan dan pengalaman baru, ada hal menyenangkan lain dari mendaki. Apa itu? Ya, kawan baru. Bersyukurnya dipendakian pertama ini mendapat kawan mendaki yang baik. Mereka tak hanya mementingkan puncak untuk diraih, namun mereka juga berusaha mencapai puncak tersebut tanpa meninggalkan satupun rombongan dibelakang. Ternyata keutamaan dari mendaki bukan sekedar mencapai puncak, tapi ini tentang kerjasama, proses, dan konsistensi.
Dalam pendakian ini akupun menyadari hal yang jauh lebih penting dari hasil, Ya, hal itu adalah proses. Persetan dengan hasil akhirnya, namun dari berkelana ini aku belajar menyadari bahwa proseslah yang seharusnya lebih diutamakan dari hasil. Apa gunanya meraih sesuatu jika kita tak bisa menikmati apa yang disajikan selama proses tersebut? Apa gunanya meraih sesuatu jika kita justru kehilangan kendali atas diri sendiri dan berusaha menghalalkan segala cara untuk mencapai hal tersebut? Aku rasa itu bukan yang utama dan kini aku menyadari bahwasanya kita tak seharusnya berorientasi pada hasil, namun justru kita harus berorientasi pada proses mendapatkan hasil tersebut.
Proses itu yang utama, sedangkan hasil merupakan salah satu bonusnya
Tapi tidak bisa di sangkal sih, kalau kita berhasil mencapai tujuan yang diimpikan akan merasa lebih 'puas'. Ya, itu jugabenar. Tapi ayo berusaha untuk tidak abai dengan proses yang kita akan pilih.
Okay kita cukupi dulu cosplay menjadi merry riana,
Saatnya balik ke cerita inti hahaha...
Sat set sat set, akhirnya sampai juga di puncak! Mari ambil jeda sejenak.
Funfact: nasi kuning rasanya jauh lebih nikmat ketika dinikmati di puncak! (soalnya kelaperan parah hahaha) |
Setelah perut ini kenyang, mari kita menjelajahi dan bercerita tentang puncak Gunung Tapak!
![]() |
18 juni 2023, kaki ini berhasil menapaki Puncak Gunung Tapak! |
![]() |
Pura di Puncak Gunung Tapak |
![]() |
Makam Wali Pitu Bali di Puncak Gunung Tapak |
Tak hanya pura, di puncak gunung ini para pendaki juga akan menjumpai makam Wali Pitu Bali. Banyak pula wisatawan dari luar Pulau Bali yang berziarah ke makam tersebut.
...
Untuk ukuran pendakian pertama, ini bisa dibilang pendakian yang menyenangkan. Pendakian pertama ini memberikan bekas yang menyenangkan untuk dikenang. Banyak pelajaran baru yang didapat. Jika nanti orang bertanya, apakah ini akan menjadi pengalaman pertama dan terakhirku dalam mendaki gunung? Tidak, Aku anggap ini merupakan gerbang awal perjalanan berkelana dalam mendaki gunung-gunung indah lain di seluruh penjuru dunia, terutama di Indonesia!
Oh iya, satu hal penting yang harus selalu di ingat. Selama menuju dan sampai di atas puncak gunung jangan lupa untuk selalu menjaga lisan serta tingkah laku ya! Jangan sampai kehadiran kita di gunung justru mengganggu penghuni dan alam sekitar.
Jangan turun dengan meninggalkan sesuatu di gunung, kecuali jejak kaki dan beban pikiran yang menggaggu
Jangan pula turun dengan mengambil sesuatu dari gunung, kecuali pelajaran hidup dan sekarung cerita
Ingat untuk selalu bawa kembali semua sampah ya! Ayo jaga gunung agar tetap lestari. Jika belum bisa meninggalkan hal baik untuk gunung, setidaknya jangan meningkalkan hal buruk untuk gunung.
Akan selalu ada langkah pertama dalam hidup. Jadi, kapan mau mulai?
Kunjungi arsip perjalanan Bila Kelana lainnya!
Instagram: @Bila.kelana
Tiktok: @Bila.kelana
Email: Bila.kelana@gmail.com
Comments
Post a Comment